Mitos masyarakat Prigi tentang terbentuknya kawasan Pantai Prigi merupakan asal mula upacara Larung Sembonyo. Masyarakat Prigi hampir seluruhnya beragama Islam, namun mereka merasa kurang tenteram jika meninggalkan tradisi dan upacara Larung Sembonyo yang diyakini dapat menjaga keseimbangan dengan alam sekitar dan semesta. Setiap penyelenggaraan Sembonyo pasti menggelar kesenian Jaranan, Wayang Kulit dan kesenian Tayub. Kehadiran kesenian tersebut memiliki makna dan fungsi yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat pesisir Prigi Kabupaten Trenggalek. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mengetahui sejarah budaya dan prosesi Larung Sembonyo; dan 2) mengetahui nilai-nilai budaya yang ada di Larung Sembonyo. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis diawali dengan reduksi data, penyajian, kemudian penarikan simpulan. Lokasi penelitian berada di Kawasan Pantai Prigi, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Hasil penelitian ini mengungkap bentuk penyajian Ritual Adat Larung Sembonyo yang meliputi sejarah, lokasi, waktu, pelaku, alur, sesaji. Upacara Adat Larung Sembonyo merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang mengandung nilai-nilai luhur. Nilai-nilai tersebut meliputi: nilai religi, nilai estetika, nilai moral, nilai sosial, nilai edukasi, nilai demokrasi. Ritual Adat Larung Sembonyo dilatarbelakangi oleh rasa syukur masyarakat atas hasil panen, kesejahteraan, kesehatan, dan kedamaian yang diterima.
Copyrights © 2026