Penelitian ini mengkaji pengetahuan ekologis masyarakat Sunda yang terwujud dalam praktik kosmologis dan tradisi pengelolaan alam, dengan fokus pada dua artefak ruang air, yaitu Situ Aksan dan Situ Cisanti di wilayah Bandung. Pengetahuan ekologis masyarakat Sunda tidak hanya bersifat empiris, tetapi juga berakar pada sistem nilai, kepercayaan, dan kosmologi yang memandang alam sebagai entitas hidup dan sakral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interdisipliner yang mengintegrasikan kajian sejarah, etnografi, dan ekologi budaya. Data dikumpulkan melalui studi arsip, wawancara mendalam dengan tokoh adat, budayawan, dan masyarakat lokal, serta observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situ Cisanti hingga kini masih dipertahankan sebagai ruang ekologis dan spiritual melalui sistem larangan adat, ritual, dan pemaknaan kosmologis terhadap air sebagai sumber kehidupan. Sebaliknya, Situ Aksan mengalami degradasi fungsi dan akhirnya menghilang akibat urbanisasi, modernisasi, dan melemahnya transmisi nilai kosmologis dalam masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan ekologi tidak dapat dilepaskan dari keberlanjutan budaya dan sistem pengetahuan lokal. Dengan demikian, pengetahuan ekologis masyarakat Sunda memiliki kontribusi penting dalam merumuskan pendekatan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan berkeadilan budaya.
Copyrights © 2026