Tari Mlotrok merupakan karya tari baru berbasis referensi budaya Ponorogo yang dikembangkan oleh mahasiswa UKM Reyog Laskar Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya untuk ruang kompetisi nasional. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana tata rias dan busana bekerja sebagai tanda visual serta bagaimana pemilihan, modifikasi, dan penciptaan elemen visual menegosiasikan identitas budaya Ponorogo di panggung kompetisi. Penelitian menggunakan pendekatan kualititatif interpretatif dengan desain studi kasus pertunjukan. Data bersumber dari rekaman pementasan dan latihan, dokumentasi visual, sinopsis karya, serta wawancara dengan koreografer, penata rias, penata busana, penari, dan pembina. Analisis menggunakan semiotika Roland Barthes untuk membedakan makna denotatif dan konotatif, kemudian memetakan keputusan visual ke dalam retensi, modifikasi fungsional, dan inovasi. Temuan menunjukkan tiga pola negosiasi: mempertahankan penanda lokal seperti udeng dan tali kolor; memodifikasi bentuk untuk kebutuhan tubuh bergerak seperti kemaja tanpa lengan dan celana longgar; serta menambahkan inovasi ekspresif seperti teknik lakteks dan pom-pom untuk memperkuat karakter komikal. Identitas budaya dalam Tari Mlotrok dengan demikian tidak direproduksi secara literal, tetapi direkonstruksi secara selektif melalui hubungan antara tradisi, tubuh penari, kreativitas generasi muda, dan konteks pertunjukan kompetitif.
Copyrights © 2026