Kesenian barongsai mengalami transformasi fungsi dari ranah sakral menuju ruang publik, seiring pergeseran orientasi dari ritual keagamaan ke arah hiburan dan olahraga prestasi, termasuk pengakuan barongsai sebagai cabang olahraga resmi oleh KONI, termasuk di Vihara Dharma Ratna Klungkung. Penelitian ini bertujuan memahami transformasi makna barongsai dari ranah sakral menuju ruang publik dalam kehidupan umat Buddha di vihara tersebut. Penelitian kualitatif jenis mini etnografi ini melibatkan delapan informan melalui purposive sampling, dengan data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara tematik, naratif, dan bingkai. Hasil menunjukkan barongsai berfungsi sebagai media pewarisan budaya Tionghoa, mendorong pergeseran ritual menuju prestasi tanpa menghilangkan nilai tradisional, serta ditemukan negosiasi kesakralan melalui pemisahan barongsai sakral dan profan disertai pemberkatan, dan pemaknaan sebagai ruang aktualisasi nilai Dhamma (viriya, khanti, sati) serta jembatan multikultural masyarakat Klungkung. Transformasi ini berlangsung melalui negosiasi selektif, bukan pergeseran linear, sehingga kesakralannya tetap terjaga. Penelitian merekomendasikan pengurus vihara mempertahankan pemisahan barongsai sakral-profan dan mendokumentasikan sejarahnya, pelatih menyeimbangkan aspek teknis-estetis-spiritual, serta penelitian lanjutan menggunakan pendekatan longitudinal dan komparatif antarvihara.
Copyrights © 2026