Kopi sambung merupakan salah satu alternatif peremajaan kopi Robusta dengan memanfaatkan sistem perakaran tanaman yang telah terbentuk dan entres terpilih yang produktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis intensitas adopsi teknologi kopi sambung pada petani pengadopsi di Desa Tangsi Duren, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan data primer yang dikumpulkan pada 2021 melalui kuesioner, wawancara, dan observasi lapangan. Populasi penelitian terdiri atas 42 petani yang menerima atau menggunakan teknologi kopi sambung yang diperkenalkan pada 2018–2019 dan seluruhnya dijadikan responden melalui metode sensus. Intensitas adopsi dihitung pada tingkat individu sebagai proporsi jumlah batang kopi yang telah disambung terhadap seluruh batang kopi yang dimiliki, kemudian dirata-ratakan antarresponden. Rata-rata intensitas adopsi mencapai 82,77% dan termasuk kategori sangat tinggi berdasarkan kriteria operasional penelitian. Petani rata-rata memiliki 1.419 batang kopi dan telah menyambung rata-rata 1.203 batang; kedua nilai rata-rata tersebut hanya disajikan secara deskriptif dan tidak digunakan untuk memperoleh nilai intensitas 82,77%. Data lapangan juga mencatat keberhasilan teknis penyambungan sebesar 90%. Produksi rata-rata yang dilaporkan meningkat secara deskriptif dari 907 menjadi 1.600 kg ha?¹ atau sebesar 76,41%. Perubahan produksi tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai dampak kausal karena penelitian hanya mencakup petani pengadopsi dan tidak memiliki kelompok pembanding. Temuan menegaskan pentingnya membedakan difusi teknologi, intensitas adopsi, keberhasilan teknis, dan outcome usahatani dalam mengevaluasi program peremajaan kopi.
Copyrights © 2025