Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kinerja usaha Kuritos berbasis balanced scorecard di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu Salsa Bila; Gita Mulyasari; Irnad; Ellys Yuliarti
COMPOSITE : Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 8 No. 2 (2026): Juli
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaur Regency has significant potential for octopus resources, with production reaching 276,031 kg per year, encouraging the development of processing-based enterprises, including IKM Putra Daerah, which produces octopus crackers under the brand “Kuritos.” However, high availability of raw materials does not necessarily translate into optimal business performance. Theoretically, the Balanced Scorecard emphasizes that business performance should be achieved by balancing financial and non-financial aspects. In reality, the Kuritos business demonstrates relatively good financial performance but still faces limitations in production capacity and employee productivity, resulting in suboptimal overall performance. This gap between the ideal condition and the actual situation forms the basis of this study. This research aims to analyze Kuritos' business performance across financial and non-financial dimensions using the Balanced Scorecard approach. The study employs a case study design with a qualitative descriptive approach supported by quantitative data. The results indicate that financial performance is considered good, with an R/C ratio of 1.20 and a break-even point already achieved; however, business profits remain relatively low relative to the regional minimum wage. In terms of non-financial aspects, customer and employee satisfaction are relatively high, but production volume and employee productivity have not yet reached the expected targets. Overall, business performance is categorized as moderate, with a score of 0.6, indicating a need to strengthen production capacity and marketing strategies to sustainably improve performance.
Intensitas adopsi teknologi kopi sambung pada petani pengadopsi di Desa Tangsi Duren Kabupaten Kepahiang Karyo Fauzan; Irnad; Bambang Sumantri
Oryza : Jurnal Agribisnis dan Pertanian Berkelanjutan Vol. 10 No. 1 (2025): Oryza: Jurnal Agribisnis dan Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Universitas Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56071/oryza.v10i1.2094

Abstract

Kopi sambung merupakan salah satu alternatif peremajaan kopi Robusta dengan memanfaatkan sistem perakaran tanaman yang telah terbentuk dan entres terpilih yang produktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis intensitas adopsi teknologi kopi sambung pada petani pengadopsi di Desa Tangsi Duren, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan data primer yang dikumpulkan pada 2021 melalui kuesioner, wawancara, dan observasi lapangan. Populasi penelitian terdiri atas 42 petani yang menerima atau menggunakan teknologi kopi sambung yang diperkenalkan pada 2018–2019 dan seluruhnya dijadikan responden melalui metode sensus. Intensitas adopsi dihitung pada tingkat individu sebagai proporsi jumlah batang kopi yang telah disambung terhadap seluruh batang kopi yang dimiliki, kemudian dirata-ratakan antarresponden. Rata-rata intensitas adopsi mencapai 82,77% dan termasuk kategori sangat tinggi berdasarkan kriteria operasional penelitian. Petani rata-rata memiliki 1.419 batang kopi dan telah menyambung rata-rata 1.203 batang; kedua nilai rata-rata tersebut hanya disajikan secara deskriptif dan tidak digunakan untuk memperoleh nilai intensitas 82,77%. Data lapangan juga mencatat keberhasilan teknis penyambungan sebesar 90%. Produksi rata-rata yang dilaporkan meningkat secara deskriptif dari 907 menjadi 1.600 kg ha?¹ atau sebesar 76,41%. Perubahan produksi tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai dampak kausal karena penelitian hanya mencakup petani pengadopsi dan tidak memiliki kelompok pembanding. Temuan menegaskan pentingnya membedakan difusi teknologi, intensitas adopsi, keberhasilan teknis, dan outcome usahatani dalam mengevaluasi program peremajaan kopi.