Pulau Lombok sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) bergantung pada kualitas pelayanan pemanduan wisata, di mana pemandu wisata perempuan memegang peran krusial, khususnya dalam melayani segmen solo traveler wanita. Namun, tingginya kerentanan terhadap pengungkapan verbal maupun non verbal di lapangan menjadi hambatan utama profesionalisme dan keinginan karir mereka. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas 5 orang pemandu wisata perempuan yang tergabung dalam embrio Perkumpulan Pemandu Wisata Perempuan Lombok melalui manajemen krisis keamanan, teknik de-eskalasi verbal, dan penerapan inovasi teknologi Digital Guardian Circle. Metode pelaksanaannya menggunakan pendekatan Action Learning dan Community-Based Security yang mencakup lima tahapan: sosialisasi, pelatihan risk assesment dan de-eskalasi verbal, implementasi sistem Emergency SOS digital, pendampingan Sisterhood Support System, serta evaluasi pengunduran diri. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan skor kompetensi mitra komunikasi hingga 85%, tersusunnya modul dan panduan mitigasi krisis keamanan khusus gender, serta terbentuknya sistem proteksi mandiri berbasis teknologi smartphone. Penguatan ini tidak hanya meningkatkan ketahanan dan kepercayaan diri pemandu perempuan, tetapi juga menciptakan nilai tambah tambah berupa branding layanan wisata yang aman dan berdaya saing internasional di NTB
Copyrights © 2026