Pada tahun 2024, Indonesia mencatat lebih dari 257 ribu kasus DBD dengan 1.461 kematian. Kabupaten Gowa tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan kasus DBD tertinggi di Sulawesi Selatan. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai vektor penular, siklus hidup nyamuk, dan gerakan 3M Plus menjadi salah satu penghambat utama keberhasilan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan warga Desa Bontolangkasa Utara, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, mengenai pencegahan dan pengendalian DBD melalui penyuluhan. Desain kegiatan adalah one-group pretest-posttest dengan kuesioner 10 pernyataan benar-salah mencakup perilaku menggigit nyamuk Aedes aegypti, tempat perindukan, siklus hidup nyamuk, gejala DBD, gerakan 3M, fogging, larvasida abate, kelambu, dan program Satu Rumah Satu Jumantik. Sebanyak 24 peserta mengikuti pre-test dan post-test dan seluruhnya berhasil dipasangkan untuk analisis. Mayoritas peserta perempuan (95,8%) dengan rerata usia 44,33±9,88 tahun dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (87,5%). Rerata skor pengetahuan meningkat dari 4,38±2,08 (pre-test) menjadi 8,92±0,97 (post-test) pada skala 0–10, atau meningkat 103,8%. Uji normalitas Shapiro-Wilk terhadap selisih skor menunjukkan distribusi tidak normal (p=0,012), sehingga uji Wilcoxon signed-rank digunakan sebagai analisis utama dan menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna (p<0,001), didukung uji paired t-test sebagai analisis sensitivitas (t=10,89; df=23; p<0,001) dengan besar pengaruh yang sangat besar (Cohen's d=2,22). Proporsi peserta berkategori pengetahuan baik meningkat dari 8,3% menjadi 91,7%. Penyuluhan kesehatan berbasis evaluasi kuantitatif terbukti sangat efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan DBD dan dapat menjadi model intervensi promosi kesehatan yang direplikasi di wilayah endemis DBD lain, dengan penguatan berkelanjutan melalui peran kader Jumantik dan pemerintah desa.
Copyrights © 2026