Guru bimbingan dan konseling (BK) di sekolah inklusif sering mengalami kesulitan memberikan layanan yang adaptif bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK) karena pendekatan yang digunakan masih bersifat verbal-konvensional dan minimnya media pendukung. Analisis situasi pada Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Kabupaten Madiun menunjukkan 88,9% guru BK masih mengandalkan wawancara langsung, 92% belum memiliki media konseling inovatif, dan 78% belum pernah memperoleh pelatihan media sensorik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru BK melalui pendampingan penggunaan inovasi “Kotak Konseling Sensorik” sebagai media layanan konseling inklusif berbasis multisensori. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan partisipatif, penerapan media, pendampingan, dan evaluasi dengan desain pretest-posttest terhadap 75 guru BK dari 25 SMP inklusif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh indikator kompetensi: pemahaman konsep konseling inklusif meningkat dari 18,7% menjadi 89,3%, keterampilan merancang media dari 21,3% menjadi 82,7%, kemampuan memberikan layanan adaptif dari 17,3% menjadi 88,0%, dan kemampuan menggunakan media secara mandiri dari 20,0% menjadi 85,3%, dengan kategori N-Gain tinggi (g > 0,7) pada seluruh indikator. Kegiatan ini disimpulkan efektif meningkatkan kompetensi guru BK dan menciptakan layanan konseling yang lebih nyaman, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.
Copyrights © 2026