Komunitas Tuli di daerah Bulukumba menghadapi tantangan multidimensi yang mencakup keterbatasan akses pendidikan, diskriminasi sosial, hambatan komunikasi, serta rendahnya literasi bahasa Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya kompetensi tenaga pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB) dalam menggunakan bahasa isyarat, sehingga alumni SLB pun kerap tidak mengalami peningkatan berarti dalam kemampuan komunikasi dan literasi. Artikel pengabdian masyarakat ini mendokumentasikan dan menganalisis kegiatan Komunitas Panrita Inklusi, sebuah organisasi berbasis komunitas yang berdiri sejak Desember 2020 dan berbadan hukum sejak Januari 2022. Panrita Inklusi berperan sebagai ruang interaksi antara komunitas Tuli dan Dengar di wilayah Bulukumba dan sekitarnya. Melalui program kelas bahasa isyarat, pelatihan literasi bahasa Indonesia, dan sinergi lintas sektor, komunitas ini telah memberikan dampak nyata: belasan anggota Tuli kini mampu berkomunikasi secara tertulis menggunakan bahasa Indonesia melalui telepon genggam, dan beberapa di antaranya berhasil mendapatkan pekerjaan. Artikel ini memaparkan latar belakang, metode, hasil, dan kendala yang dihadapi dalam upaya pemberdayaan komunitas Tuli di daerah dengan keterbatasan sumber daya.
Copyrights © 2026