Kabupaten Humbang Hasundutan menyimpan potensi wisata sejarah dan budaya yang besar sebagai salah satu geosite Toba Caldera UNESCO Global Geopark, namun kunjungan wisatawan menurun dari 131.137 orang (2019) menjadi 88.348 orang (2021), seiring lemahnya tata kelola kebijakan branding destinasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan efektivitas branding "Explore Humbang Hasundutan" yang berjalan saat ini, menelusuri inisiatif pembentukan branding berbasis sejarah dan budaya, serta merumuskan arah kebijakan branding yang relevan bagi tata kelola pariwisata daerah ke depan. Pendekatan kualitatif etnografi digunakan sebagai kerangka utama, didukung data kuantitatif dari 77 responden wisatawan, dengan lima informan kunci dipilih secara purposive sampling dan divalidasi melalui triangulasi sumber. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap etnografi Spradley, dipertajam dengan matriks IFAS-EFAS yang diplot ke diagram kuadran SWOT. Hasil penelitian menunjukkan branding eksisting belum memiliki payung hukum resmi dan posisi strategis kawasan berada pada kuadran turn-around (skor internal -0,35; skor eksternal +1,83), yang mengisyaratkan urgensi kebijakan kolaborasi lintas aktor (penta helix) untuk melegalkan dan menguatkan identitas "Negeri Pesona Seribu Legenda" dengan positioning "The Real Geopark".
Copyrights © 2026