Berpikir kritis matematis merupakan kompetensi esensial abad 21 yang masih rendah, khususnya pada geometri. Salah satu faktor afektif yang diduga memengaruhinya adalah self-efficacy. Kajian mengenai berpikir kritis matematis pada geometri berdasarkan tingkat self-efficacy masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan berpikir kritis matematis peserta didik SMP pada geometri berdasarkan tingkat self-efficacy. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari tiga peserta didik kelas VIII SMP kabupaten Bandung yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan hasil angket self-efficacy Bandura, masing-masing mewakili kategori tinggi (S1), sedang (S2), dan rendah (S3). Instrumen yang digunakan adalah angket self-efficacy (20 butir, skala Likert 1–4) dan tes uraian kemampuan berpikir kritis matematis pada geometri (lima soal) yang mengacu pada lima indikator Facione (1990): interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan eksplanasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa S1 memenuhi indikator interpretasi dan evaluasi dengan baik, tetapi masih lemah pada analisis, inferensi, dan eksplanasi. S2 hanya memenuhi sebagian indikator secara intuitif tanpa argumentasi matematis yang tuntas. S3 tidak mampu memenuhi kelima indikator dengan benar, mengalami kesalahan mendasar pada perhitungan dan pemahaman konsep. Dengan demikian, subjek dengan self-efficacy tinggi cenderung menunjukkan kemampuan berpikir kritis matematis yang lebih baik dibandingkan subjek dengan self-efficacy sedang dan rendah. Namun, karena penelitian ini hanya melibatkan tiga subjek, hubungan umum antara self-efficacy dan kemampuan berpikir kritis matematis belum dapat disimpulkan. Penelitian ini merekomendasikan agar guru merancang aktivitas geometri berbasis masalah nonrutin untuk mengembangkan kemampuan analisis, inferensi, dan eksplanasi matematis.
Copyrights © 2026