Literasi numerasi peserta didik Indonesia masih rendah, tercermin dari skor matematika PISA 2022 sebesar 366, atau 106 poin di bawah rata-rata OECD (472). Studi pendahuluan di SMP Bina Insan Mandiri Nganjuk melalui lembar observasi dan rekap nilai tugas prasyarat menunjukkan 22 dari 30 peserta didik kelas VIII (73%) kesulitan mengubah masalah kontekstual menjadi model matematika. Kondisi ini diperparah oleh pembelajaran satu arah dan LKPD konvensional yang seragam serta minim penalaran kontekstual. Penelitian ini bertujuan mengembangkan LKPD literasi numerasi yang memadukan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) dan model Discovery Learning pada materi Persamaan Garis Lurus, serta menguji kevalidan, kepraktisan, dan keefektifannya. Penelitian pengembangan ini menggunakan model 4D dengan subjek 30 peserta didik kelas VIII yang dipilih melalui sampling jenuh. Data dihimpun melalui wawancara, observasi, validasi ahli, angket, dan pretest-posttest, lalu dianalisis secara deskriptif-kuantitatif dan dengan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan LKPD sangat valid (materi 94%; media 95%), sangat praktis (pendidik 91%; enam peserta didik uji kelompok kecil 83%), dan efektif dengan rerata N-Gain 0,85 (tinggi); 26 dari 30 peserta didik (86,7%) mencapai skor minimal 75 pada posttest. Disimpulkan bahwa LKPD yang dikembangkan layak digunakan pada kelas dengan kemampuan awal heterogen dan diikuti peningkatan hasil belajar yang tinggi, meskipun tanpa kelompok pembanding peningkatan tersebut belum dapat diatribusikan sepenuhnya pada produk. Penelitian lanjutan direkomendasikan menggunakan desain kuasi-eksperimen multisekolah serta mengintegrasikan GeoGebra untuk memperkuat representasi grafik bagi peserta didik pada level dasar.
Copyrights © 2026