Penelitian ini menganalisis konstruksi karakter people pleaser atau Sindrom “Yes Man” pada tokoh Tari dalam film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis melalui struktur naratif. Fokus penelitian diarahkan pada cara trauma keluarga disfungsional dan tekanan di lingkungan profesional dimaknai melalui perkembangan alur tokoh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, paradigma konstruktivisme, dan analisis naratif Tzvetan Todorov yang diperluas menjadi lima tahap: equilibrium, disruption, recognition, attempt to repair, dan new equilibrium. Data primer berupa adegan, dialog, ekspresi, gestur, serta penanda waktu film yang dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada equilibrium, Tari hidup dalam keseimbangan semu yang ditandai penekanan emosi dan penghindaran konflik. Tahap disruption memperlihatkan eskalasi kekerasan domestik yang berkelindan dengan kepatuhan pasif di ruang kerja. Pada recognition, Tari mulai melepaskan emosi, memprotes kontrol, dan membangun batasan diri. Tahap attempt to repair ditandai keputusan keluar dari rumah dengan dukungan jaringan sosial. Pada new equilibrium, Tari mampu menolak beban kerja yang bukan tanggung jawabnya, menetapkan batasan interpersonal, dan membangun kehidupan domestik yang lebih aman. Temuan menegaskan bahwa struktur lima tahap tersebut mampu memetakan transformasi people pleasing dari mekanisme bertahan hidup menuju pemulihan dan kemandirian emosional.
Copyrights © 2026