Reformasi Kurikulum Merdeka sejak 2022 menandai pergeseran orientasi pembelajaran menuju peserta didik, pengalaman, dan pembelajaran berbasis proyek yang memiliki akar filosofis dalam progresivisme John Dewey. Namun, implikasi dan ketegangan filosofis antara prinsip-prinsip progresivisme yang mendasari Kurikulum Merdeka dan prinsip-prinsip pendidikan Islam belum banyak dianalisis secara kritis dan sistematis. Artikel ini bertujuan menganalisis pengaruh filosofis progresivisme dalam arsitektur Kurikulum Merdeka serta merekonstruksinya berdasarkan epistemologi dan aksiologi Islam. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-filosofis melalui analisis tesis, antitesis, dan sintesis terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan adanya titik temu antara progresivisme dan pendidikan Islam dalam penghargaan terhadap fitrah, potensi individu, dan pembelajaran aktif berbasis pengalaman. Keduanya memiliki perbedaan fundamental pada landasan aksiologis, yaitu progresivisme bertumpu pada nilai instrumental dan eksperimental, sedangkan pendidikan Islam berorientasi pada nilai transenden wahyu. Artikel ini menawarkan konsep "progresivisme bertransendensi" yang memadukan prinsip pedagogis progresivisme dengan paradigma profetik Kuntowijoyo melalui humanisasi, liberasi, dan transendensi untuk mengarahkan pembelajaran pada pembentukan insan kamil. Konsep ini dapat menjadi kerangka evaluatif bagi implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pendidikan Agama Islam agar adaptif tanpa kehilangan orientasi transenden
Copyrights © 2026