Academic burnout menjadi persoalan penting dalam pendidikan tinggi karena tuntutan akademik berkepanjangan dapat menurunkan kesehatan mental, prestasi, dan keberlanjutan studi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan memetakan tren publikasi, kontributor utama, struktur tematik, dan peluang penelitian masa depan mengenai academic burnout secara global selama 2018–2025. Penelitian menggunakan tinjauan pustaka dengan pendekatan bibliometrik terhadap artikel jurnal berbahasa Inggris yang terindeks Scopus. Data ditelusuri memakai kata kunci “academic burnout” dan “university” atau “college”, diseleksi berdasarkan kriteria yang ditetapkan, kemudian dianalisis menggunakan VOSviewer melalui tren publikasi, kepengarangan, sitasi, dan kemunculan bersama kata kunci. Dari 200 rekaman awal, sebanyak 174 artikel memenuhi kriteria. Hasil menunjukkan perkembangan publikasi yang berfluktuasi, dengan perhatian kuat pada COVID-19, kesehatan mental, mahasiswa kedokteran, kesejahteraan, dan resiliensi. Tiongkok, Amerika Serikat, dan Finlandia menjadi negara kontributor utama, sedangkan Shanafelt merupakan penulis paling produktif. Pemetaan kata kunci menghasilkan empat klaster, yaitu psikopatologi dan dampak mental; faktor pelindung dan intervensi; dinamika pembelajaran dan teknologi; serta populasi mahasiswa rentan. Self-compassion masih relatif jarang diteliti sehingga menawarkan kesenjangan penelitian yang menjanjikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kajian academic burnout bersifat multidisipliner, tetapi masih terkonsentrasi dalam konteks kesehatan. Penelitian selanjutnya perlu memperluas bukti dari Indonesia serta menguji self-compassion, resiliensi, self-efficacy, dan dukungan sosial pada populasi mahasiswa yang beragam.
Copyrights © 2026