Kebijakan digitalisasi layanan kesehatan, yang diwujudkan lewat kewajiban penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME) beserta sederet aplikasi sektoral (seperti ASIK, Sigizikega, MPDN, e-Kohort, dan BNBA), pada dasarnya dirancang untuk mengoptimalkan presisi data. Kendati demikian, realitas di fasilitas kesehatan tingkat pertama menunjukkan adanya fragmentasi sistem. Belum terintegrasinya berbagai platform tersebut secara horizontal mengharuskan bidan untuk menginput data secara berulang (double entry). Situasi ini berpotensi kuat melahirkan beban kerja ganda (double burden) yang rentan memicu kelelahan mental (burnout), sekaligus menggeser fokus bidan dari yang seharusnya mengutamakan pelayanan klinis tersita oleh urusan administratif. Berangkat dari persoalan tersebut, studi ini dilaksanakan untuk mengkaji secara komprehensif bagaimana persepsi, realitas pengalaman, hambatan teknis, implikasi fisik dan psikologis, hingga mekanisme koping bidan saat dihadapkan pada dualitas tugas di UPTD Puskesmas Rawat Inap Muara Kumpeh pada tahun 2026. Secara metodologis, riset ini mengaplikasikan desain kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Proses penggalian data bertumpu pada wawancara mendalam terhadap para bidan pelaksana selaku informan kunci, yang ditarik melalui teknik purposive sampling. Guna menjamin keabsahan informasi, peneliti menerapkan triangulasi sumber yang melibatkan Kepala Puskesmas serta Bidan Koordinator. Seluruh data kemudian diurai menggunakan analisis tematik guna menangkap pola pengalaman subjektif dari para partisipan. Keluaran studi ini diproyeksikan mampu memetakan ragam pandangan bidan terhadap era digitalisasi, menguraikan tantangan infrastruktur, serta persoalan manajemen waktu. Pada akhirnya, temuan riset ini sangat esensial sebagai landasan evaluasi kebijakan, guna memastikan bahwa adopsi teknologi kesehatan di puskesmas senantiasa selaras dengan kapasitas dan kondisi riil tenaga medis di lapangan.
Copyrights © 2026