Perkembangan teknologi informasi di bidang kesehatan mendorong rumah sakit untuk menerapkan dua sistem rekam medis, yaitu rekam medis manual dan rekam medis elektronik (RME). Duplikasi rekam medis dapat menghambat kesinambungan informasi pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sistem penyimpanan rekam medis aktif dan mengidentifikasi faktor penyebab duplikasi di RSUD Kesehatan Kerja Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Rekam Medis RSUD Kesehatan Kerja, khususnya pada bagian filing dan pendaftaran Instalasi Gawat Darurat (IGD)/Rawat Inap (Ranap), pada tanggal 1–30 Juni 2026. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara dan dokumentasi terhadap empat informan yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan sistem penyimpanan telah menggunakan sentralisasi dan Terminal Digit Filing, namun pelaksanaannya belum optimal. Pada Juni 2026 ditemukan 25 duplikasi dari 1.378 kunjungan/pasien, dengan prevalensi 1,81%. Faktor yang berkontribusi meliputi ketelitian petugas, kapasitas penyimpanan, proses peminjaman dan pengembalian berkas, serta sistem informasi hybrid. Optimalisasi diperlukan melalui penguatan SPO, penataan filing, pengendalian berkas, dan peningkatan pemanfaatan SIMRS serta rekam medis elektronik.
Copyrights © 2026