Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) di Indonesia masih berada pada tahap transisi sistem hybrid di banyak fasilitas kesehatan, termasuk di RSUD Kesehatan Kerja, sehingga menimbulkan beban kerja ganda bagi petugas Rekam Medis. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian antara jumlah sumber daya manusia (SDM) dengan beban kerja riil petugas Rekam Medis selama masa transisi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK-Kes), dengan populasi dan sampel seluruh 16 petugas Rekam Medis (total sampling). Data primer diperoleh melalui wawancara, sedangkan data sekunder berupa data ketenagaan dan volume kunjungan pasien periode Januari–Desember 2025. Hasil perhitungan menunjukkan kebutuhan riil SDM sebanyak 26 orang, sementara tenaga yang tersedia hanya 16 orang, sehingga terdapat kekurangan 10 orang (38,5%). Kekurangan paling signifikan terjadi pada kegiatan Distribusi Rekam Medis, Case Mix Rawat Jalan, serta Indeks & Coding. Temuan ini menegaskan bahwa fenomena tugas rangkap yang dialami petugas memiliki dasar objektif, bukan sekadar persepsi subjektif. Manajemen RSUD Kesehatan Kerja disarankan melakukan rekrutmen tenaga secara terarah pada unit-unit dengan kekurangan SDM tertinggi. Dengan demikian, kesenjangan tenaga Perekam Medis memiliki dasar objektif dan perlu segera ditindaklanjuti agar transisi digitalisasi Rekam Medis di RSUD Kesehatan Kerja dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan sesuai ketentuan yang berlaku
Copyrights © 2026