Abstract: This study describes the implementation of the Merdeka Curriculum in the Package C equivalency program at PKBM Bina Kreasi Pekanbaru, focusing on adaptive learning planning, learning participation and social interaction, learning independence and assessment, and supporting and inhibiting factors. A qualitative descriptive design was used. Data were obtained from three informants representing the management, tutor, and learner elements through interviews, observation, and documentation, with cross-checking among the three data-collection techniques. The findings show that learning was planned by considering differences in learners’ backgrounds and needs. Group assignments, class discussions, collaborative projects, and skills-based activities created opportunities for communication, cooperation, and more active participation. Learners also showed a growing tendency to manage study time outside face-to-face sessions, seek information independently, and attempt tasks before asking for assistance. Formative and summative assessments were used to monitor learning progress. Tutor enthusiasm, learner motivation, and institutional support facilitated implementation, whereas limited facilities, heterogeneous learner backgrounds, and uneven tutor readiness remained important constraints. The study indicates that the implementation at PKBM Bina Kreasi is broadly aligned with flexible and learner-centered principles, but its consistency still depends on stronger tutor capacity and adequate learning resources. These findings add contextual evidence on Merdeka Curriculum implementation in nonformal equivalency education. Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka pada Program Kesetaraan Paket C di PKBM Bina Kreasi Pekanbaru dengan fokus pada perencanaan pembelajaran yang adaptif, partisipasi dan interaksi sosial, kemandirian belajar dan asesmen, serta faktor pendukung dan penghambat. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari tiga informan yang mewakili unsur pengelola, tutor, dan warga belajar melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan pemeriksaan silang antarteknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan perbedaan latar belakang dan kebutuhan warga belajar. Tugas kelompok, diskusi kelas, proyek kolaboratif, dan kegiatan keterampilan membuka ruang komunikasi, kerja sama, dan partisipasi yang lebih aktif. Warga belajar juga menunjukkan kecenderungan yang semakin kuat untuk mengatur waktu belajar di luar sesi tatap muka, mencari informasi secara mandiri, dan mencoba menyelesaikan tugas sebelum meminta bantuan. Asesmen formatif dan sumatif digunakan untuk memantau perkembangan belajar. Antusiasme tutor, motivasi warga belajar, dan dukungan lembaga menjadi faktor pendukung, sedangkan keterbatasan fasilitas, heterogenitas latar belakang warga belajar, dan kesiapan tutor yang belum merata masih menjadi kendala. Implementasi di PKBM Bina Kreasi secara umum selaras dengan prinsip fleksibilitas dan pembelajaran berpusat pada warga belajar, tetapi konsistensinya memerlukan penguatan kompetensi tutor dan sumber belajar yang memadai. Temuan ini menambah bukti kontekstual tentang penerapan Kurikulum Merdeka pada pendidikan kesetaraan nonformal.
Copyrights © 2026