Transformasi digital dalam birokrasi pemerintahan menuntut kesiapan kapasitas Aparatur Sipil Negara (ASN) yang adaptif dan kompeten. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) merancang program Digital Talent Scholarship (DTS), khususnya skema Government Transformation Academy (GTA), sebagai instrumen strategis untuk memangkas kesenjangan digital (digital gap) di kalangan aparatur. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran, kontribusi, inovasi, serta tantangan implementasi program Digitalent dalam pengembangan kompetensi ASN melalui metode Systematic Literature Review (SLR). Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran, kontribusi, inovasi, serta tantangan implementasi program Digitalent dalam pengembangan kompetensi ASN melalui metode Systematic Literature Review (SLR). Batasan basis data pencarian literatur difokuskan secara ketat pada jurnal nasional terakreditasi SINTA. Berdasarkan analisis komprehensif terhadap 15 artikel jurnal terindeks dalam rentang waktu lima tahun terakhir (2021–2026), ditemukan bahwa program Digitalent berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kecakapan digital teknis (seperti Artificial Intelligence, Big Data, dan Cloud Computing) serta mempercepat implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di tingkat pusat dan daerah. Meskipun efektivitas program ini masih dibatasi oleh resistensi kultural birokrasi, kesenjangan infrastruktur digital antarwilayah, dan ketimpangan geografis kepesertaan. Studi ini merekomendasikan integrasi sertifikasi kompetensi dengan sistem manajemen talenta nasional serta pemberlakuan kuota afirmatif bagi wilayah tertinggal guna mewujudkan transformasi birokrasi yang inklusif.
Copyrights © 2026