Masa awal remaja merupakan fase krusial bagi siswa untuk mengenali tubuh, memahami privasi, dan mewaspadai risiko kekerasan seksual. Sayangnya, edukasi seksualitas di lingkungan sekolah masih minim dan belum terstruktur, padahal kasus kekerasan pada anak termasuk di ranah Pendidikan terus meningkat. Kondisi ini juga terjadi di SMP Negeri 21 Satu Atap Teluk Bintan, di mana keterbatasan akses informasi akibat letak geografis wilayah pesisir diperparah oleh ketiadaan layanan bimbingan konseling khusus. Menanggapi masalah tersebut, mahasiswa KKN Universitas Maritim Raja Ali Haji menggelar sosialisasi partisipatif bagi 107 siswa pada 26 Agustus 2026. Dikemas melalui talkshow interaktif, diskusi, dan simulasi penanganan situasi berisiko, materi berfokus pada dinamika pubertas, perkembangan psikologis, serta perlindungan diri dari pelecehan. Hasil kegiatan menunjukkan mayoritas siswa telah memahami pentingnya menjaga batas tubuh dan mampu mengidentifikasi bentuk kekerasan seksual, walaupun masih bingung menentukan langkah yang tepat saat mendapati temannya menjadi korban. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi seksualitas di sekolah perlu diberikan secara bertahap dan berkesinambungan bukan sekadar program insidental agar remaja terbiasa berdiskusi secara terbuka dan siap mengambil tindakan tepat saat menghadapi bahaya.
Copyrights © 2026