Kemampuan mengidentifikasi unsur ADIKSIMBA merupakan dasar pemahaman teks berita karena membantu siswa merekonstruksi peristiwa sebelum menilai informasi secara lebih kritis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri Satap 1 Maginti dalam mengidentifikasi enam unsur ADIKSIMBA serta memetakan ketimpangan penguasaan antarunsur. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan total sampling terhadap 25 siswa. Data diperoleh melalui tes esai berbasis teks berita, dengan setiap unsur dinilai pada rentang skor 0–4 berdasarkan ketepatan, kelengkapan, dan kejelasan jawaban. Analisis dilakukan melalui persentase ketuntasan individual dan klasikal serta profil capaian setiap unsur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 siswa atau 60% mencapai ketuntasan individual, sehingga kelas belum memenuhi standar ketuntasan klasikal 85%. Penguasaan tertinggi terdapat pada unsur kapan sebesar 96%, sedangkan unsur apa mencapai 56%, di mana 44%, siapa 40%, mengapa 60%, dan bagaimana 64%. Temuan ini menunjukkan bahwa penguasaan ADIKSIMBA bersifat asimetris, dengan kelemahan paling menonjol pada identifikasi pihak dan lokasi, sementara hubungan kausal dan kronologi juga belum dikuasai secara merata. Rata-rata capaian keseluruhan sebesar 70,50% menunjukkan bahwa skor agregat dapat menyamarkan distribusi kemampuan individual; karena itu, evaluasi perlu mempertimbangkan karakteristik teks dan keseimbangan keeksplisitan informasi pada setiap unsur agar diagnosis pembelajaran lebih akurat. Penelitian menyimpulkan bahwa pembelajaran teks berita perlu bergerak dari pencarian informasi eksplisit menuju pengolahan struktur informasi yang lebih terarah. Kebaruan penelitian terletak pada penggunaan profil penguasaan antarunsur sebagai perangkat diagnostik, bukan hanya skor agregat. Kontribusinya ialah menyediakan dasar empiris bagi perancangan pembelajaran yang menargetkan kelemahan spesifik siswa serta memperkuat transisi dari pemahaman dasar menuju literasi berita yang lebih kritis.
Copyrights © 2026