Industri tekstil memiliki karakteristik pekerjaan repetitif, posisi kerja statis, tuntutan ketelitian, dan target produksi yang berpotensi menimbulkan keluhan muskuloskeletal dan stres kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor individu, lingkungan kerja, dan psikososial dengan keluhan muskuloskeletal dan stres kerja pada pekerja sewing di industri garmen PT. X dan Z. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 85 tenaga kerja bagian sewing, dengan 80 responden memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi melalui purposive sampling. Faktor individu meliputi usia, masa kerja, denyut nadi, IMT, dan tekanan darah; faktor lingkungan kerja meliputi kebisingan, pencahayaan, dan tekanan panas; sedangkan faktor psikososial meliputi status pernikahan, jumlah anak, dan konflik dengan rekan kerja. Keluhan muskuloskeletal diukur menggunakan NBM, sedangkan stres kerja menggunakan DASS subskala stres. Analisis hubungan menggunakan uji Spearman Rank, Pearson Product Moment, dan Somers’ dengan tingkat kemaknaan 0,05. Keluhan muskuloskeletal didominasi kategori rendah (71,3%), sedang (25%), tinggi (2,5%), dan sangat tinggi (1,2%). Keluhan terbanyak ditemukan pada pinggang (61,3%), tengkuk (60,0%), punggung (55,0%), bahu kanan (52,5%), dan bahu kiri (51,3%). Stres kerja didominasi kategori sedang (64,2%), ringan (29,6%) dan berat (4,9%). Rerata lingkungan kerja meliputi kebisingan 71 dBA, pencahayaan 253,86 lux, dan tekanan panas 29,9°C. Hasil penelitian menunjukkan faktor individu, lingkungan kerja, dan psikososial tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan keluhan muskuloskeletal dan stres kerja pada pekerja sewing PT. X dan Z (p>0,05). Upaya preventif perlu diarahkan pada evaluasi ergonomi, termasuk postur kerja, desain workstation, gerakan repetitif, microbreak, dan stretching.
Copyrights © 2026