Regulasi diri emosional anak usia dini tidak memadai untuk dipahami hanya melalui durasi screen time, karena pendekatan tersebut mengabaikan bagaimana praktik keluarga membentuk pengalaman penggunaan smartphone. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana praktik keluarga membentuk penggunaan smartphone dan bagaimana pengalaman tersebut berkelindan dengan regulasi diri emosional anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan 2 orang tua/pengasuh dan 5 anak berusia 3–7 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi naturalistik, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik dengan triangulasi teknik dan sumber. Hasil menunjukkan bahwa akses, tujuan penggunaan, aturan, pendampingan, respons terhadap permintaan, serta strategi pembatasan dan penghentian membentuk pengalaman anak dalam menghadapi keinginan, penundaan, negosiasi, dan kehilangan akses smartphone. Regulasi diri emosional paling tampak pada situasi menunggu, menerima pembatasan, dan beralih setelah penghentian, dengan variasi antarkasus terkait konsistensi aturan dan strategi transisi, terutama pemberian peringatan sebelum penghentian. Temuan menegaskan bahwa durasi screen time semata tidak menjelaskan pengalaman regulasi emosional anak. Kontribusi penelitian terletak pada pergeseran fokus dari “berapa lama” menuju “bagaimana praktik keluarga membentuk pengalaman smartphone dan situasi regulasi diri emosional”, dengan smartphone dipahami sebagai arena interaksi keluarga tempat anak mengalami dan mengelola emosinya.
Copyrights © 2026