Diabetes Mellitus Tipe II merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi psikologis. Depresi diketahui dapat menurunkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, pengaturan pola makan, dan aktivitas fisik sehingga berpotensi menyebabkan buruknya pengendalian kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan tingkat depresi dengan kadar glukosa darah pada klien Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Karangawen I Kabupaten Demak. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 50 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Tingkat depresi diukur menggunakan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), sedangkan kadar glukosa darah diperoleh melalui pemeriksaan glukosa darah. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 30 responden (60%) berada pada kategori tidak depresi hingga depresi ringan, sedangkan 20 responden (40%) mengalami depresi sedang hingga berat. Sebanyak 22 responden (44%) memiliki kadar glukosa darah normal dan 28 responden (56%) memiliki kadar glukosa darah tinggi. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat depresi dan kadar glukosa darah (x² = 26,190; p = 0,000). Nilai OR sebesar 0,267 (95% CI: 0,147-0,483) menunjukkan bahwa responden tanpa depresi atau dengan depresi ringan memiliki peluang lebih besar untuk memiliki kadar glukosa darah normal dibandingkan responden dengan depresi sedang hingga berat. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat depresi berhubungan secara signifikan dengan kadar glukosa darah pada klien Diabetes Mellitus Tipe II. Skrining depresi dan intervensi psikososial perlu diintegrasikan dalam pelayanan Diabetes Mellitus di tingkat pelayanan kesehatan primer.
Copyrights © 2026