Harmoni antaragama dalam masyarakat multikultural tidak terbentuk secara otomatis dari keberagaman, tetapi melalui interaksi sosial yang memungkinkan perbedaan dipahami, dikelola, dan dikembangkan menjadi relasi konstruktif. Kondisi tersebut memiliki relevansi strategis bagi pendidikan moderasi beragama karena menyediakan pengalaman autentik untuk mengembangkan toleransi, dialog, kerja sama, dan penghormatan terhadap perbedaan. Kajian ini bertujuan menganalisis posisi harmoni antaragama sebagai strategi pendidikan moderasi beragama serta merumuskan mekanisme pedagogis yang menghubungkan pengalaman sosial dengan internalisasi nilai moderasi. Penelitian menggunakan metode literature review dengan menganalisis literatur relevan mengenai moderasi beragama, interaksi lintas agama, pendidikan Islam, toleransi, dan pendidikan multikultural. Hasil kajian menunjukkan bahwa harmoni antaragama berfungsi tidak hanya sebagai luaran moderasi, tetapi juga sebagai konteks dan medium pedagogis yang memungkinkan nilai moderasi dipelajari melalui pengalaman sosial. Proses tersebut berlangsung melalui tahapan pengenalan keberagaman, interaksi dan dialog, pengalaman kolaboratif, serta refleksi dan internalisasi, yang berkontribusi terhadap pembentukan karakter moderat, kolaborasi antaragama, dan kohesi sosial. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendidikan moderasi perlu bergeser dari transmisi pengetahuan menuju pembelajaran berbasis pengalaman yang mengintegrasikan kurikulum, budaya kelembagaan, keterlibatan masyarakat, dan ruang digital. Model yang dirumuskan merupakan proposisi konseptual yang memerlukan pengujian empiris pada beragam konteks pendidikan dan sosial.
Copyrights © 2026