Artikel ini menguraikan beberapa masalah yaitu, 1) Bagaimana pemahaman guru dalam pembelajaran metode deep learning?. 2) Bagaimana guru sekolah dasar mempraktikkan pembelajaran metode deeplearning?. 3) Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat saat diterapkannya metode deeplearning?. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan teknik bracketing untuk menangguhkan asumsi, prasangka, serta pengalaman peneliti selama proses pengumpulan dan analisis data. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dan telaah dokumen pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap deep learning masih beragam, mulai dari pemahaman konseptual yang terbatas hingga pemaknaan yang lebih komprehensif terkait pembelajaran bermakna, berpikir tingkat tinggi, dan keterhubungan antar konsep. Praktik deep learning di kelas tercermin melalui aktivitas reflektif, diskusi mendalam, penggunaan masalah kontekstual, dan kolaborasi siswa, meskipun pelaksanaannya belum konsisten karena keterbatasan waktu, tuntutan administrasi, serta kemampuan pedagogis guru yang beragam. Faktor pendukung meliputi pelatihan, komunitas belajar, dan dukungan sekolah, sedangkan faktor penghambat berasal dari keterbatasan pemahaman guru, ketersediaan sumber belajar, serta kesiapan siswa. Makna esensial yang muncul adalah bahwa deep learning dipahami guru sebagai upaya memfasilitasi pembelajaran bermakna yang mampu mengembangkan cara berpikir kritis, kreatif, dan reflektif pada siswa. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan dan pendampingan pedagogis agar penerapan deep learning dapat berlangsung lebih optimal.
Copyrights © 2026