Bencana banjir yang melanda Kota Bekasi pada Maret 2025 tidak hanya menunjukkan kerentanan infrastruktur, tetapi juga memperlihatkan kelemahan komunikasi krisis antara pemerintah dan masyarakat terdampak. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana komunikasi krisis yang disampaikan pemerintah diterima dan dimaknai oleh Yayasan Masjid Baiturrahman di Perumahan Kemang Pratama 3 sebagai salah satu komunitas yang terdampak langsung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam terhadap pengurus yayasan. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Crisis and Emergency Risk Communication (CERC) serta Risk Communication Model dari Covello dan Sandman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pemerintah pada fase pra-bencana dinilai terlambat dan kurang efektif sehingga masyarakat lebih mengandalkan jaringan komunikasi komunitas. Pada fase tanggap darurat, komunikasi berbasis komunitas dipandang lebih cepat, kredibel, dan sesuai dengan kondisi lapangan. Sementara pada fase pascabencana koordinasi pemerintah mulai membaik, meskipun masih ditemukan kesenjangan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa institusi keagamaan memiliki peran strategis sebagai mediator komunikasi risiko dan mitra pemerintah dalam meningkatkan efektivitas komunikasi kebencanaan.
Copyrights © 2026