Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia karena berada pada kawasan Ring of Fire. Meningkatnya minat masyarakat, khususnya mahasiswa, terhadap aktivitas pendakian gunung belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman mengenai mitigasi bencana dan kesiapsiagaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi risiko bencana alam pada pendaki pemula serta mengkaji peran komunikasi risiko berdasarkan model Crisis and Emergency Risk Communication (CERC). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap lima pendaki pemula di Kota Surabaya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi risiko dibentuk oleh pengalaman pribadi, faktor emosional, paparan media, serta tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi. Media sosial menjadi sumber informasi utama karena mudah diakses dan cepat, meskipun sumber resmi dinilai lebih kredibel. Penelitian juga menemukan bahwa komunikasi risiko yang diterima pendaki belum sepenuhnya mampu mendorong perilaku kesiapsiagaan. Penerapan prinsip-prinsip CERC menunjukkan bahwa komunikasi yang cepat, akurat, kredibel, empatik, dan mendorong tindakan nyata memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran risiko bencana pada pendaki pemula. Temuan ini diharapkan menjadi dasar pengembangan strategi komunikasi risiko berbasis komunitas yang lebih efektif.
Copyrights © 2026