Penelitian ini bertujuan mengkaji fenomena penalti belajar kecerdasan buatan generatif, yakni penurunan kemampuan belajar yang muncul tertunda setelah penggunaan peranti tersebut, melalui kerangka konseptual pendidikan Islam serta merumuskan prinsip penilaian yang lebih sulit dialihkan kepada peranti (cognitive offloading). Bukti empiris mutakhir atas 26.811 siswa menengah di Tiongkok menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan menaikkan nilai pekerjaan rumah sebesar 18 persen dan memangkas waktu pengerjaan sebesar 30 persen, namun menurunkan nilai ujian bulanan tertutup sebesar 20 persen dalam enam bulan dan nilai ujian masuk sebesar 18 dan 24 persen, dengan dampak penuh baru muncul setelah sekitar dua tahun. Jenis penelitian adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui dokumentasi atas studi empiris, kitab-kitab pendidikan Islam klasik, dan literatur akademik Indonesia mutakhir, lalu dianalisis dengan analisis isi kualitatif dan pemetaan konseptual. Penelitian ini berargumen bahwa konsep malakah Ibnu Khaldun menyediakan penjelasan teoretis pramodern yang sejalan dengan mekanisme yang diukur data tersebut, yaitu bahwa daya intelektual terbentuk melalui latihan berulang dan tidak cukup melalui pemahaman atau hafalan, sedangkan penekanan al-Zarnuji pada jidd dan mujahadah menempatkan kesungguhan sebagai unsur pembentuk ilmu, bukan beban yang perlu diminimalkan. Sebagai inferensi konseptual yang belum diuji secara empiris di Indonesia, penelitian ini mengajukan dugaan bahwa tradisi penilaian pesantren seperti sorogan dan bahtsul masail berpotensi lebih tahan terhadap cognitive offloading karena menilai proses belajar secara langsung, bukan produknya.
Copyrights © 2026