ABSTRACT Self-confidence in early childhood develops through children’s experiences in communicating, interacting, making decisions, and expressing themselves. The family environment is often regarded as an important context in this process; however, its association with self-confidence cannot always be explained through parenting-style classifications alone. This study examines this association among 20 children in Group B2 at a kindergarten in Purwakarta using a quantitative correlational approach and saturated sampling. The children served as the units of analysis, with parenting information obtained from 20 parents and self-confidence assessed by one homeroom teacher. Data were collected through a Likert-scale questionnaire, observation, and documentation, followed by Shapiro-Wilk and linearity tests before applying Spearman’s Rho correlation. Parenting practices tended to be characterized by democratic and permissive styles, while 85% of the children demonstrated a moderate level of self-confidence. The overall association was very weak and statistically non-significant (r = 0.035; p = 0.884; R² = 0.000). The authoritarian parenting dimension showed a tendency toward a negative association in the dimensional analysis, but it did not reach statistical significance. These findings suggest that children’s self-confidence should be understood within a broader developmental context, while the results should be interpreted cautiously given the limited sample size. ABSTRAK Rasa percaya diri pada masa kanak-kanak awal tumbuh melalui pengalaman anak ketika berkomunikasi, berinteraksi, mengambil keputusan, dan mengekspresikan dirinya. Lingkungan keluarga sering ditempatkan sebagai salah satu konteks penting dalam proses tersebut, tetapi keterkaitannya dengan rasa percaya diri tidak selalu dapat dijelaskan melalui klasifikasi pola asuh secara sederhana. Penelitian ini mengkaji keterkaitan tersebut pada 20 anak kelompok B2 di salah satu TK di Purwakarta dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dan sampling jenuh. Anak menjadi unit analisis, dengan informasi pola asuh diperoleh dari 20 orang tua dan penilaian rasa percaya diri dilakukan oleh 1 guru wali kelas. Angket berskala Likert, observasi, dan dokumentasi digunakan sebagai sumber data, yang selanjutnya diperiksa melalui uji Shapiro-Wilk dan linearitas sebelum korelasi Spearman’s Rho diterapkan. Kecenderungan pola asuh orang tua lebih banyak berada pada pola demokratis dan permisif, sedangkan 85% anak berada pada kategori rasa percaya diri sedang. Hubungan keseluruhan yang diperoleh sangat lemah dan tidak signifikan (r = 0,035; p = 0,884; R² = 0,000). Pola asuh otoriter memperlihatkan kecenderungan hubungan negatif pada analisis dimensi, tetapi belum mencapai signifikansi statistik. Temuan ini menunjukkan perlunya membaca perkembangan rasa percaya diri dalam konteks yang lebih luas dan menafsirkan hasil secara hati-hati mengingat keterbatasan ukuran sampel.
Copyrights © 2026