Keterbatasan lahan dan disparitas profitabilitas antara komoditas padi dan cabai merah memicu tantangan dalam penentuan alokasi ruang agrikultur. Strategi yang tepat dibutuhkan guna mengamplifikasi keuntungan finansial tanpa mereduksi kuota ketersediaan pangan lokal. Riset ini diaplikasikan untuk merumuskan proporsi luasan lahan paling optimal bagi kedua jenis tanaman di Kota Padang dengan memanfaatkan linear programming. Konstruksi model matematis mengandalkan data sekunder BPS Kota Padang tahun 2024. Sasaran utama (objective function) diarahkan pada maksimisasi margin usahatani, yang diikat oleh batasan (constraints) berupa total luas area 22.922,11 hektare dan batas bawah (lower bound) produksi beras sebanyak 80.092 ton. Perhitungan berbasis presisi membuktikan bahwa luasan paling ideal adalah 14.405 hektare khusus untuk budidaya padi, dan sisanya 8.517,11 hektare dialokasikan bagi cabai merah. Keputusan spasial tersebut berpotensi mengeskalasi proyeksi keuntungan maksimum hingga menembus angka Rp Rp223.558.981.400,00. Konklusi penelitian menunjukkan bahwa pendekatan kuantitatif ini mumpuni untuk menjembatani benturan kepentingan (trade-off) antara keamanan pangan dan rasionalisasi ekonomi. Hasil pemodelan ini menyajikan basis analisis pendahuluan untuk perencanaan komoditas, dengan tetap menyadari asumsi kondisi ceteris paribus pada variabel harga maupun laju panen.
Copyrights © 2026