Tradisi Selamatan Subak merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Desa Pegayaman yang masih dilaksanakan secara turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. atas hasil panen yang diperoleh. Selain memiliki makna religius, tradisi ini juga menjadi media yang memperkuat hubungan sosial masyarakat melalui berbagai aktivitas yang dilakukan secara bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk solidaritas sosial masyarakat dalam pelaksanaan tradisi Selamatan Subak di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas Kelian Subak, tokoh masyarakat, masyarakat, dan generasi muda yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Selamatan Subak mencerminkan dua bentuk solidaritas sosial menurut Emile Durkheim, yaitu solidaritas mekanik yang ditunjukkan melalui kesamaan nilai, keyakinan, dan kesadaran kolektif masyarakat, serta solidaritas organik yang tampak melalui pembagian tugas berdasarkan peran masing-masing. Solidaritas tersebut selanjutnya tercermin dalam lima bentuk perilaku sosial, yaitu kebersamaan, empati, mengedepankan kepentingan bersama, kerja sama, dan kekompakan. Tradisi Selamatan Subak tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial, menjaga nilai gotong royong, serta mempertahankan keharmonisan masyarakat Desa Pegayaman.
Copyrights © 2026