Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hijrah as Socio-Religious Transformation among Non-Hijabi Muslim Women in Singaraja, Bali Muhammad Idris; Alif Alfi Syahrin; Irwan Nur; Ana Safitri; Nia Septinawati; Adinda Cinderalaila Fathonatan Ryantho; Mahir Pradana
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 11, No 1 (2026): Analisa Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18784/analisa.v11i1.3994

Abstract

The phenomenon of hijrah is widely examined through visible symbolic changes, such as adopting the hijab. However, a significant research gap exists regarding how non-hijabi Muslim women interpret this transformation, particularly within minority contexts where their academic perspective remains underexplored in previous literature. This case study investigates the socio-religious transformation and identity construction of non-hijabi Muslim women in Singaraja, Bali. Singaraja was selected as a unique multicultural space where a Muslim minority community interacts closely with dominant Balinese cultural dynamics. Using a qualitative approach, data were gathered through in-depth interviews with fifteen participants, a sample size justified by data saturation, where no new themes emerged during iterative collection. The data were systematically analyzed using thematic analysis. The findings concretely reveal that participants understand hijrah not as an appearance-based milestone, but as a continuous, internal process of spiritual and moral self-improvement. This transformation is experienced through explicit personal actions, such as internalizing sincerity, refining character, improving worship consistency, and consciously practicing interreligious tolerance amidst local cultural values. Furthermore, digital media and social environments exert structural pressures by projecting idealized visual standards of piety. In response, these women exercise distinct spiritual agency by separating authentic religious conviction from visual conformity. This study contributes empirically grounded evidence demonstrating how minority Muslim women fluidly negotiate identity and sustain religiosity without fully submitting to dominant symbolic expectations.
Bentuk-Bentuk Solidaritas Sosial Masyarakat Desa Pegayaman dalam Pelaksanaan Tradisi Selamatan Subak Ana Safitri; I Gusti Made Arya Suta Wirawan; Lola Utama Sitompul
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13762

Abstract

Tradisi Selamatan Subak merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Desa Pegayaman yang masih dilaksanakan secara turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. atas hasil panen yang diperoleh. Selain memiliki makna religius, tradisi ini juga menjadi media yang memperkuat hubungan sosial masyarakat melalui berbagai aktivitas yang dilakukan secara bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk solidaritas sosial masyarakat dalam pelaksanaan tradisi Selamatan Subak di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas Kelian Subak, tokoh masyarakat, masyarakat, dan generasi muda yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Selamatan Subak mencerminkan dua bentuk solidaritas sosial menurut Emile Durkheim, yaitu solidaritas mekanik yang ditunjukkan melalui kesamaan nilai, keyakinan, dan kesadaran kolektif masyarakat, serta solidaritas organik yang tampak melalui pembagian tugas berdasarkan peran masing-masing. Solidaritas tersebut selanjutnya tercermin dalam lima bentuk perilaku sosial, yaitu kebersamaan, empati, mengedepankan kepentingan bersama, kerja sama, dan kekompakan. Tradisi Selamatan Subak tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial, menjaga nilai gotong royong, serta mempertahankan keharmonisan masyarakat Desa Pegayaman.