Penyelenggaraan pendidikan inklusif pada jenjang sekolah menengah membutuhkan kepemimpinan yang adaptif, responsif, dan menjunjung prinsip keadilan dalam menetapkan kebijakan yang mampu mengakomodasi keragaman peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengkaji kontribusi kepemimpinan perempuan dalam proses perumusan dan penetapan kebijakan pada sekolah inklusif tingkat menengah. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan (Library Research) dengan pendekatan kualitatif. Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran secara sistematis terhadap artikel ilmiah terindeks, dokumen kebijakan, serta berbagai literatur yang relevan dan diterbitkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Data dianalisis melalui analisis isi dan analisis tematik dengan memanfaatkan triangulasi sumber serta kritik sumber sebagai upaya menjaga validitas informasi. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa kepemimpinan perempuan yang mengedepankan ethics of care, empati, dan keterlibatan partisipatif dapat mendorong perubahan pengelolaan sekolah menuju pola yang lebih kolaboratif, terbuka, dan humanis. Kebijakan yang mendukung inklusivitas diwujudkan melalui penyusunan aturan sekolah yang fleksibel dan adaptif, peningkatan kompetensi serta efikasi diri guru melalui komunitas belajar, dan pembentukan budaya sekolah yang menghargai perbedaan. Namun, pemimpin perempuan masih menghadapi berbagai kendala, termasuk keterbatasan fasilitas, minimnya guru pendamping khusus, serta persoalan sosial-kultural berupa bias gender dan stereotip terhadap kepemimpinan perempuan. Penguatan resiliensi melalui kerja sama dengan pihak eksternal dan diplomasi yang didukung bukti menjadi strategi penting untuk menghadapi hambatan tersebut. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang mengutamakan empati, partisipasi, dan kesetaraan berperan penting dalam membangun tata kelola pendidikan menengah yang inklusif serta berorientasi pada keadilan sosial.
Copyrights © 2026