Kinerja keuangan PT TI menunjukkan tren menurun dalam tiga tahun terakhir, dengan laba bersih menyusut dari Rp24,6 triliun (2023) menjadi Rp17,8 triliun (2025), di tengah kompleksitas struktur bisnis yang mencakup banyak anak perusahaan dan segmen usaha, mengindikasikan bahwa mekanisme akuntansi pertanggungjawaban belum diterapkan secara optimal sehingga kontribusi dan kinerja setiap unit bisnis sulit diukur secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep, mekanisme penentuan, dan implementasi pusat pertanggungjawaban akuntansi meliputi pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba, dan pusat investasi pada struktur organisasi PT TI serta relevansinya terhadap kinerja keuangan perusahaan, menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi dokumentasi atas laporan keuangan konsolidasi, siaran pers resmi, dan telaah literatur akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa PT TI telah menerapkan konsep pusat pertanggungjawaban secara konkret, di mana Telkomsel berfungsi sebagai pusat laba, Mitratel dan Telkom Indonesia level korporat sebagai pusat investasi, serta Telkom Akses dan Telkom Infra sebagai pusat biaya. Penurunan margin laba bersih dari 16,5 persen (2023) menjadi 12,1 persen (2025) tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan kinerja operasional, melainkan lebih disebabkan oleh kebijakan akuntansi terpusat berupa perubahan beban depresiasi dan restatement laporan keuangan dalam agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia sebuah temuan yang hanya dapat diidentifikasi melalui pemisahan pusat pertanggungjawaban yang jelas sehingga penerapan struktur pusat pertanggungjawaban yang terstruktur terbukti berkontribusi signifikan terhadap akuntabilitas dan transparansi tata kelola perusahaan multisegmen.
Copyrights © 2026