Sektor pelayanan transportasi umum memegang peran krusial dalam mobilitas perkotaan, namun tantangan kemacetan menuntut evaluasi layanan berbasis penciptaan nilai publik (public value). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mengukur, dan mendeskripsikan capaian nilai publik pada layanan BISKITA Trans Pakuan Koridor 2 (Terminal Bubulak–Ciawi) di Kota Bogor berdasarkan persepsi pengguna. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, pengumpulan data primer dilakukan melalui penyebaran kuesioner terstruktur berskala Likert 1–5 kepada 100 responden yang ditentukan menggunakan teknik accidental sampling. Selanjutnya, teknik analisis data dihitung secara matematis menggunakan metode statistik deskriptif Weight Mean Score (WMS) untuk menilai tiga dimensi utama dari teori Strategic Triangle Mark H. Moore, yaitu substantial value, legitimacy & support, serta operational capacity. Hasil temuan menunjukkan nilai publik BISKITA Koridor 2 secara keseluruhan berada pada kategori Baik dengan akumulasi rata-rata skor sebesar 4,09. Secara rinci, dimensi substantial value meraih skor 4,24 (Sangat Baik) karena efektivitas tarif Rp4.000 yang terjangkau serta kenyamanan fisik armada yang tinggi. Dimensi legitimacy & support memperoleh skor tertinggi sebesar 4,38 (Sangat Baik) sebagai refleksi besarnya kepercayaan politik dan dukungan aktif warga dalam menggunakan moda ini. Kendati demikian, dimensi operational capacity memperoleh skor terendah sebesar 3,65 (Baik), di mana indikator waktu tunggu (headway) dan ketepatan jadwal armada masing-masing hanya memperoleh skor 3,10 dan 3,33 (Cukup Baik). Keterbatasan jumlah bus yang aktif serta tingginya dinamika kemacetan lalu lintas harian menjadi batasan penelitian yang membatasi performa ketepatan waktu tersebut. Kesimpulannya, penciptaan nilai publik sudah berjalan dengan baik, namun implikasinya menuntut evaluasi ketat dari pengelola untuk mengoptimalkan kapasitas operasional lapangan di masa mendatang.
Copyrights © 2026