Latar Belakang: Gangguan pendengaran akibat bising (noise-induced hearing loss/NIHL) merupakan salah satu masalah kesehatan akibat pajanan bising yang dapat dicegah. Meskipun gangguan pendengaran akibat bising umumnya dikaitkan dengan kerusakan frekuensi tinggi, dampak pajanan suara frekuensi rendah dan pola gangguan pendengaran yang ditimbulkannya masih perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak pajanan suara frekuensi rendah dan frekuensi tinggi terhadap gangguan pendengaran serta membandingkan pola gangguan pendengaran yang dihasilkan. Tujuan: Menelaah secara sistematis dampak paparan suara frekuensi rendah dan frekuensi tinggi terhadap gangguan pendengaran. Metode: Tinjauan sistematis dilakukan berdasarkan kerangka Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, dan OpenAlex menggunakan kata kunci terkait low-frequency noise, high-frequency noise, dan hearing loss. Studi asli yang melibatkan individu terpajan bising frekuensi rendah atau tinggi serta melaporkan luaran pendengaran diikutsertakan. Data karakteristik penelitian, pajanan, dan perubahan ambang pendengaran diekstraksi dan dianalisis secara naratif. Hasil: Pajanan frekuensi rendah maupun tinggi terbukti berhubungan dengan gangguan pendengaran. Pajanan frekuensi rendah tidak selalu menyebabkan gangguan pada frekuensi rendah, tetapi pada beberapa penelitian menunjukkan penurunan ambang pendengaran yang lebih nyata pada frekuensi tinggi, terutama 4–6 kHz. Pajanan frekuensi tinggi lebih konsisten menyebabkan gangguan pendengaran frekuensi tinggi. Kesimpulan: Kedua rentang frekuensi dapat berkontribusi terhadap NIHL dengan pola yang dipengaruhi intensitas dan karakteristik pajanan. Pemantauan audiometri secara berkala diperlukan untuk deteksi dini gangguan pendengaran.
Copyrights © 2026