Pendahuluan: Pioderma gangrenosum (PG) adalah penyakit inflamasi kulit noninfeksi yang jarang terjadi, terutama pada anak-anak. Diagnosis PG sering menantang karena gejalanya mirip dengan infeksi kulit sehingga diperlukan pemeriksaan dan proses diagnosis banding untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun mengeluhkan luka borok basah yang sangat nyeri dan membesar dengan cepat. Lesi awal berupa lecet kecil yang dicurigai sebagai pintu masuk infeksi. Diagnosis awal adalah frambusia dan pasien diberikan terapi azitromisin, seftriakson, serta metilprednisolon. Hasil pemeriksaan serologi negatif, sehingga diagnosis frambusia disingkirkan dan PG menjadi diagnosis utama. Luka sempat membaik, namun kambuh dua bulan kemudian di tempat yang sama dan muncul lesi baru. Pasien dirawat inap ulang dengan terapi antibiotik intravena dan kortikosteroid. Kultur pus menunjukkan Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Pasien menerima terapi vankomisin sesuai sensitivitas dan tatalaksana eradikasi MRSA dengan mandi klorheksidin dan salep mupirosin intranasal. Setelah 9 hari perawatan, pasien pulang dengan perbaikan lesi dalam dua minggu. Diskusi: PG pada anak merupakan tantangan diagnosis dan terapi. Koinfeksi MRSA dapat memperburuk kondisi dan memperlambat penyembuhan. Simpulan: Penanganan yang cepat dan tepat dengan kombinasi terapi antiinflamasi dan antibiotik sesuai sensitivitas sangat penting untuk hasil klinis yang optimal.
Copyrights © 2026