Pesatnya perkembangan industri fast fashion mendorong pola konsumsi pakaian berlebihanyang menghasilkan timbulan limbah tekstil dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuanmenganalisis pola konsumsi fast fashion mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES),tingkat kesadaran lingkungan terhadap limbah tekstil, serta hubungan keduanya. Penelitiandilaksanakan di UNNES (2026) menggunakan pendekatan mixed methods denganpengumpulan data kuesioner daring dan wawancara mendalam. Pengambilan sampel dilakukandengan proportionate stratified random sampling (115 responden dari sembilan fakultas), sertawawancara secara purposive sampling. Analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptifdan korelasi Spearman, sedangkan data kualitatif dianalisis melalui reduksi, penyajian, danpenarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan pola konsumsi fast fashion mahasiswaUNNES tergolong moderat dan rasional, ditandai mayoritas (77,4%) membeli 1–2 potongpakaian per belanja, berbelanja setiap 3–6 bulan sekali (55,7%), serta didorong kebutuhan(65,2%). Tingkat kesadaran lingkungan mahasiswa tergolong tinggi dengan 91,3% mengenalkonsep fast fashion dan 40,9% tidak setuju terhadapnya. Namun, terdapat kesenjangan sikapdan perilaku nyata (attitude-behavior gap) yang tercermin dari rendahnya daur ulang pakaian(31,3%) akibat minimnya infrastruktur pengelolaan limbah kampus. Hasil uji Spearmanmenunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pola konsumsi fast fashion dengankesadaran lingkungan mahasiswa (rs = -0,094; p = 0,315). Gender dan usia tidak memengaruhipandangan terhadap fast fashion. Diperlukan intervensi berupa edukasi dan penyediaan fasilitaspengelolaan limbah tekstil di kampus untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Copyrights © 2026