Pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Pulau Rote merupakanbagian dari Proyek Strategis Nasional untuk mendukung swasembada garam. Penelitian inimenganalisis kelayakan pengembangan K-SIGN melalui pendekatan SWOT–USG denganfokus pada CAPEX–OPEX serta dampak lingkungan melalui perbandingan metode Portugisdan Maduris. Metode penelitian bersifat deskriptif-kualitatif dengan dukungan estimasi teknik,observasi lapangan, dan studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa K-SIGN memilikikekuatan berupa dukungan pemerintah, iklim yang sangat mendukung, dan potensi produksibesar, namun menghadapi kelemahan seperti geomorfologi berbukit, kebutuhan investasitinggi, dan keterbatasan logistik kepulauan. Ancaman utama meliputi perubahan iklim, abrasi,sedimentasi, dan gangguan operasional akibat cuaca ekstrem. Secara ekonomi, metodePortugis menawarkan CAPEX–OPEX lebih rendah, sedangkan metode Maduris memberikanproduktivitas dan kualitas garam lebih tinggi namun berbiaya besar. Dari aspek lingkungan,metode Portugis lebih berkelanjutan dengan jejak karbon rendah, sementara metode Madurismemiliki risiko limbah geomembran dan konsumsi energi tinggi. Penelitian menyimpulkanbahwa pendekatan hybrid Portugis–Maduris merupakan opsi paling optimal untukmenyeimbangkan efisiensi ekonomi, produktivitas, dan keberlanjutan lingkungan.
Copyrights © 2026