Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual yang menjembatani disiplin klasik 'ulum al-hadis—khususnya tahqiq, kritik sanad-matan, dan takhrij—dengan praktik manajemen koleksi naskah kuno kontemporer di perpustakaan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis kajian kepustakaan, dengan data dikumpulkan dari sumber primer ilmu hadis serta sumber sekunder bidang filologi, preservasi digital, dan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan, dianalisis melalui teknik deskriptif-analitis dan tematik-komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahqiq dan preservasi perpustakaan memiliki logika struktural yang serupa: keduanya berupaya menetapkan versi teks paling andal dengan menelusuri riwayat transmisi, membandingkan varian naskah, dan mendokumentasikan provenans, meskipun tahqiq menekankan keaslian tekstual-teologis sementara preservasi perpustakaan menekankan keberlanjutan fisik-informasional. Jumlah naskah Nusantara nasional 121.668 naskah terdata per 2019, dengan ribuan tersimpan di lembaga keagamaan dan daerah menegaskan urgensi mengintegrasikan kedua disiplin tersebut. Penelitian ini mengajukan matriks konvergensi empat area yang meliputi katalogisasi, digitalisasi, kebijakan akses, dan kolaborasi kuratorial antara ahli hadis dan pustakawan. Penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan legal-institusional yang persisten, termasuk tumpang tindih kerangka regulasi antara UU Perpustakaan, UU Cagar Budaya, dan UU Hak Cipta, serta keterbatasan anggaran digitalisasi di banyak Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelestarian manuskrip hadis di era digital membutuhkan bukan sekadar digitalisasi teknis, melainkan kemitraan epistemik yang genuine antara keilmuan hadis dan ilmu perpustakaan, demi menjamin sekaligus keaslian tekstual dan keberlanjutan akses publik.
Copyrights © 2026