This study aims to explore in-depth how peer pressure on social media influences the digital behavior of senior high school students, as well as the extent to which self-control and spiritual autonomy play a role in responding to such conformity pressure. Employing a qualitative approach with a phenomenological design, data were collected through in-depth interviews with six students categorized into three typologies: failed mediation, resilience, and congruent/ideal. The results reveal a fundamental finding that conformity pressure in the digital space does not deterministically lead to delinquency or deviant behavior. The trajectory of behavior relies entirely on the strength of the individual's self-control. For students with a weak foundation of faith and self-regulation, peer pressure triggers engagement in toxic behaviors such as cyberbullying, driven by a desire for validation and the Fear of Missing Out (FOMO). Conversely, for students possessing robust self-control and spiritual awareness (muraqabah), this social pressure transforms into an opportunity to demonstrate integrity. They exhibit the mental courage to go against the tide and independently uphold moral principles. Practically, these findings imply the necessity of reconstructing the educational approaches utilized by parents and educators. Delivering religious values that are reduced to mere rigid prohibitions without room for dialogue has proven to be less effective; these fundamental religious doctrines must instead be maintained and contextualized with real, everyday case studies. This dialogical approach is essential to connect religious teachings with the critical logic of adolescents in order to strengthen their faith, thereby fostering a solid stance to navigate toxic social environments. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana tekanan teman sebaya di media sosial memengaruhi perilaku digital siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), serta sejauh mana peran kontrol diri dan otonomi spiritual dalam merespons tekanan konformitas tersebut. Melalui pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap enam siswa yang diklasifikasikan ke dalam tiga tipologi: mediasi gagal, resiliensi, dan kongruen/ideal. Hasil penelitian mengungkap sebuah temuan fundamental bahwa tekanan konformitas di ruang digital tidak secara deterministik menghasilkan kenakalan atau perilaku menyimpang. Arah perilaku sepenuhnya bergantung pada kekuatan kontrol diri masing-masing individu. Pada siswa dengan landasan iman dan regulasi diri yang lemah, tekanan kelompok memicu keterlibatan dalam perilaku toksik seperti perundungan siber, yang didorong oleh hasrat validasi dan kecemasan tertinggal tren (Fear of Missing Out/FOMO). Sebaliknya, bagi siswa yang memiliki kontrol diri dan kesadaran spiritual yang kuat (muraqabah), tekanan sosial tersebut justru bertransformasi menjadi momentum pembuktian integritas. Mereka mendemonstrasikan keberanian mental untuk melawan arus dan menegakkan aturan secara mandiri. Temuan ini secara praktis mengimplikasikan perlunya rekonstruksi metode edukasi dari orang tua dan pendidik. Penyampaian nilai agama yang direduksi menjadi sekadar larangan kaku tanpa ruang dialog terbukti kurang efektif; nilai-nilai fundamental keagamaan tersebut justru harus dipertahankan dan dikontekstualisasikan dengan studi kasus nyata sehari-hari. Pendekatan dialogis ini esensial agar ajaran agama terhubung dengan logika kritis remaja guna memperkuat akidah, sehingga mampu membentuk pendirian yang kokoh dalam menghadapi lingkungan pergaulan yang toksik.
Copyrights © 2026