Latar belakang: Asesmen autentik dapat kehilangan bukti perkembangan ketika bahasa ekspresi anak berbeda dari bahasa dokumentasi guru. Tujuan: Penelitian ini menganalisis bagaimana latar belakang kebahasaan guru membentuk asesmen autentik di kelas PAUD multibahasa. Metode: Studi kasus kualitatif melibatkan 10 guru dari 10 satuan PAUD yang dipilih secara purposif. Data berasal dari wawancara semi-terstruktur dan 10 set dokumen berupa ceklis, portofolio, dan catatan anekdot, lalu dianalisis melalui pengodean tematik, perbandingan lintas kasus, triangulasi sumber, dan pemeriksaan anggota. Hasil: Guru yang menguasai bahasa lokal anak lebih sering menggunakan catatan naratif dan observasi peka konteks, sedangkan guru yang praktiknya didominasi Bahasa Indonesia lebih mengandalkan daftar periksa terstruktur. Interaksi multibahasa anak juga belum sepenuhnya terwakili dalam dokumen formal. Kesimpulan: Repertoar kebahasaan guru memengaruhi cara bukti perkembangan dimunculkan, ditafsirkan, dan dicatat. Dokumentasi responsif bahasa serta pelatihan asesmen multibahasa diperlukan untuk meningkatkan keadilan asesmen.
Copyrights © 2026