Keruntuhan demokrasi tidak selalu diawali oleh kudeta, revolusi, ataupun penghapusan institusi politik secara tiba-tiba. Dalam sejumlah pengalaman historis, proses tersebut justru berlangsung perlahan melalui pemusatan kekuasaan, pelemahan institusi pengawasan, meningkatnya polarisasi elite, serta semakin terbatasnya ruang partisipasi publik. Analisis dilakukan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, kemudian diperdalam melalui analisis kausal-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keruntuhan Demokrasi Terpimpin tidak cukup dijelaskan oleh personalisasi kekuasaan di bawah Presiden Soekarno. Proses tersebut terbentuk melalui keterkaitan lima mekanisme, yakni pembesaran kekuasaan eksekutif, erosi institusional, polarisasi elite, meluasnya peran politik militer, serta pengendalian media dan ruang publik. Dari pola tersebut, hubungan antara tiga mekanisme utama dominasi eksekutif, polarisasi elite, dan kelemahan institusional dirumuskan sebagai Triadic Breakdown Mechanism. Mekanisme ini menunjukkan adanya hubungan umpan balik: konsentrasi kekuasaan memperdalam polarisasi politik, polarisasi mengurangi kapasitas institusi dalam membatasi kekuasaan, dan pelemahan institusional pada gilirannya menyediakan ruang yang lebih luas bagi ekspansi eksekutif. Dengan demikian, Demokrasi Terpimpin dapat dipahami sebagai suatu trajektori kemunduran demokrasi yang secara bertahap berkembang menuju keruntuhan demokrasi. Perspektif ini sekaligus memperluas pembacaan historiografi politik Indonesia dengan menempatkan pengalaman Demokrasi Terpimpin dalam percakapan yang lebih luas mengenai otokratisasi dan erosi institusi demokratis.
Copyrights © 2026