Film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” (2026) karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale menjadi kontroversi karena mengangkat konflik agraria dan kerusakan lingkungan di Papua Selatan yang dikaitkan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi wacana perlawanan masyarakat adat terhadap proyek tersebut menggunakan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk. Penelitian kualitatif ini mengkaji struktur teks (makro, superstruktur, dan mikro), kognisi sosial pembuat film, serta konteks sosial yang melatarbelakangi produksi dan resepsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film membangun wacana kontra-hegemonik melalui penggambaran masyarakat adat sebagai pihak yang terdampak, penggunaan metafora “Pesta Babi” sebagai ironi terhadap "pesta pangan" pemerintah, penyajian bukti visual dan kesaksian, serta pengaitan konflik agraria dengan kolonialisme kontemporer. Kognisi sosial sutradara mencerminkan upaya membangun kesadaran dan solidaritas publik, sedangkan konteks sosial memperlihatkan pertarungan antara narasi pembangunan negara dan perlawanan masyarakat sipil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film dokumenter berfungsi sebagai media perlawanan diskursif terhadap hegemoni kebijakan publik sekaligus menunjukkan pentingnya mengintegrasikan hak masyarakat adat, keadilan ekologis, dan partisipasi publik dalam kebijakan ketahanan pangan untuk meminimalkan konflik sosial.
Copyrights © 2026