Adolescence is a transitional period characterized by significant biological, cognitive, and social changes. During this stage, the presence of a father figure plays an important role in providing emotional support, supervision, and personality development. However, some adolescents experience fatherlessness, which refers to the absence of a father physically, psychologically, or relationally, potentially affecting their emotional development. This study aimed to systematically examine the influence of fatherlessness on adolescents’ emotion regulation. The study employed a Systematic Literature Review (SLR) method by analyzing 11 international research articles selected based on predetermined inclusion and exclusion criteria. The subjects reviewed in the selected studies were adolescents experiencing various forms of father absence. The findings indicate that fatherlessness is associated with difficulties in emotion regulation, characterized by increased negative emotions, lower ability to manage emotions, and a higher risk of depression and anxiety. These findings suggest that the presence and involvement of fathers play a crucial role in supporting the development of adaptive emotion regulation among adolescents. Therefore, greater attention from families and the social environment is needed to help fatherless adolescents develop better emotion regulation skills. Masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai oleh perubahan biologis, kognitif, dan sosial yang signifikan. Pada fase ini, keberadaan figur ayah berperan penting dalam memberikan dukungan emosional, pengawasan, dan pembentukan kepribadian. Namun, sebagian remaja mengalami kondisi fatherless, yaitu ketidakhadiran ayah secara fisik, psikologis, atau relasional yang berpotensi memengaruhi perkembangan emosional mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis pengaruh kondisi fatherless terhadap regulasi emosi pada remaja. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis 11 artikel penelitian internasional yang diperoleh berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Subjek dalam studi yang direview adalah remaja yang mengalami ketidakhadiran ayah dalam berbagai bentuk. Hasil kajian menunjukkan bahwa kondisi fatherless berkaitan dengan kesulitan regulasi emosi pada remaja, yang ditandai oleh meningkatnya emosi negatif, rendahnya kemampuan mengelola emosi, serta meningkatnya risiko depresi dan kecemasan. Temuan ini menunjukkan bahwa kehadiran dan keterlibatan ayah memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan regulasi emosi yang adaptif pada remaja. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dari keluarga dan lingkungan sosial untuk membantu remaja fatherless mengembangkan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik.
Copyrights © 2026