Model atom Thomson dan Rutherford tidak mampu menjelaskan dua fakta empiris mendasar: kestabilan atom dan pancaran spektrum garis diskrit. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara deskriptif kualitatif bagaimana spektrum emisi atom hidrogen menjadi landasan empiris bagi pembentukan model atom Niels Bohr (1913). Metode yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan pendekatan historis-konseptual; data berupa dokumen primer (makalah Balmer, Rydberg, Rutherford, dan Bohr) serta dokumen sekunder (buku teks dan artikel jurnal 2021–2026) dianalisis dengan analisis isi kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa (i) elektrodinamika klasik memprediksi keruntuhan atom Rutherford dalam orde dan spektrum kontinu; (ii) regularitas deret Lyman, Balmer, Paschen, Brackett, dan Pfund terangkum dalam rumus Rydberg ; (iii) postulat Bohr tentang orbit stasioner, kuantisasi momentum sudut , dan frekuensi Bohr menghasilkan serta ; dan (iv) panjang gelombang teoretis lima garis Balmer dengan koreksi massa tereduksi bersesuaian dengan data eksperimen dalam selisih relatif kurang dari . Disimpulkan bahwa spektrum hidrogen berperan sebagai kunci empiris yang memaksa fisika memasukkan kuantisasi ke dalam struktur atom, meskipun model Bohr kemudian digantikan oleh mekanika kuantum.
Copyrights © 2026