Burnout pada perawat dikaitkan dengan beban kerja tinggi dan stres kerja, tetapi kontribusi relatif keduanya masih beragam. Tujuan menganalisis hubungan beban kerja dan stres kerja dengan burnout secara parsial dan simultan serta menguji peran mediasi stres kerja. Metode studi cross-sectional melalui e-kuesioner pada 5–15 Desember 2025 melibatkan 98 perawat rumah sakit negeri, rumah sakit swasta, klinik, dan homecare yang dipilih secara acak. Beban kerja (adaptasi NASA-TLX), stres kerja (adaptasi Effort–Reward Imbalance), dan burnout (Oldenburg Burnout Inventory) diukur dengan skala Likert. Analisis memakai regresi linier berganda dengan robust standard error (HC3) dan bootstrap untuk mediasi. Hasil burnout kategori tinggi ditemukan pada 60,2% responden. Stres kerja berhubungan positif signifikan dengan burnout (B = 0,339; β = 0,399; 95% CI 0,113–0,565; p = 0,004), sedangkan beban kerja tidak signifikan (B = 0,194; 95% CI −0,095–0,482; p = 0,186). Keduanya menjelaskan 31,7% varians burnout (R² = 0,317). Efek tidak langsung beban kerja melalui stres kerja signifikan (0,303; 95% CI bootstrap 0,104–0,478). Simpulan stres kerja merupakan korelat utama burnout dan menjadi jalur penghubung beban kerja dengan burnout.
Copyrights © 2026